
TL;DR
Kayuagung adalah ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, berjarak sekitar 65 km dari Palembang dan kini hanya sekitar 45 menit lewat tol. Nama kota ini berasal dari pohon berdiameter hingga 4 meter yang dahulu tumbuh di wilayah ini. Kayuagung dikenal dengan budaya morge siwe (sembilan marga), tradisi Midang dan Malam Tapai, kuliner pindang khas OKI, serta kawasan Kota Lama berarsitektur kolonial di tepi Sungai Komering.
Kayuagung bukan sekadar kota yang dilewati orang dalam perjalanan lintas Sumatera. Sebagai ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), kota ini adalah pusat pemerintahan, perdagangan, dan budaya yang sudah terbentuk jauh sebelum jalan tol pertama dibangun di dekatnya.
Dari Pohon Besar ke Nama Kota
Nama Kayuagung punya asal-usul yang sangat harfiah. Dahulu, di wilayah yang kini menjadi kota ini tumbuh pohon-pohon berukuran besar, beberapa di antaranya berdiameter hingga 4 meter. Para tetua setempat punya penjelasan sederhana: “kayu” untuk pohon, “agung” untuk besar. Dari situlah nama Kayuagung muncul dan bertahan sampai hari ini.
Pohon itu bukan sekadar penanda geografis. Menurut catatan masyarakat setempat, batangnya bisa dipakai untuk membuat perabot, kulitnya dijadikan kuas, dan buahnya bisa dimakan dengan rasa manis mirip buah matoa. Nama yang lahir dari kegunaan, bukan sekadar keindahan.
Pada masa kolonial Belanda, Kayuagung sudah berfungsi sebagai pusat administrasi wilayah yang kala itu disebut onder-afdeeling Komering Ilir. Posisi itu berlanjut hingga sekarang: Kayuagung resmi menjadi ibu kota Kabupaten OKI yang mencakup 18 kecamatan dengan luas kabupaten sekitar 21.469 km².
Letak dan Kondisi Geografis
Berdasarkan data luas dan batas administratif kecamatan yang tercatat di situs resmi Kabupaten OKI, Kecamatan Kota Kayuagung memiliki luas 144,53 km² dan terletak di ketinggian sekitar 10 meter di atas permukaan laut. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Ogan Ilir di sebelah utara dan barat, serta kecamatan-kecamatan lain dalam Kabupaten OKI di bagian selatan dan timur.
Menurut data BPS 2022, penduduk kecamatan ini sekitar 74.699 jiwa dengan kepadatan 446 jiwa per km². Sungai Komering mengalir melintasi wilayah ini sebelum bermuara di Sungai Musi di Palembang, sekitar 65 km ke arah barat laut.
Kayuagung juga masuk dalam rencana pengembangan kawasan metropolitan Patungraya Agung atau Palembang Raya oleh pemerintah pusat, yang artinya pertumbuhan kota ini tidak berhenti di titik ini.
Identitas Budaya: Morge Siwe dan Bahasa Kayuagung
Kayuagung terbentuk dari sistem sosial yang disebut morge siwe, secara harfiah berarti “sembilan marga”. Kesembilan kelurahan itu adalah Kayuagung (asli), Perigi, Kutaraya, Kedaton, Sukadana, Paku, Mangunjaya, Sidakersa, dan Jua-jua. Struktur ini sampai sekarang masih hidup dalam tradisi Midang, yaitu arak-arakan budaya yang digelar setiap Lebaran Idulfitri dengan melibatkan semua kelurahan dalam wilayah morge siwe.
Penduduk asli Kayuagung berasal dari Suku Komering, dengan bahasa Kayuagung sebagai salah satu dialek bahasa Komering yang digunakan di wilayah ini. Bahasa ini punya sembilan dialek, sesuai dengan jumlah marganya, dan masih aktif dipakai sehari-hari.
Tradisi lain yang kembali populer belakangan ini adalah Malam Tapai, semacam pasar malam tradisional yang merayakan hasil bumi dan kuliner tempo dulu. Tradisi ini sempat meredup, lalu dihidupkan kembali oleh komunitas lokal dan kini rutin digelar di kawasan Tugu Jam Kayuagung dengan ratusan pelaku UMKM lokal ikut berpartisipasi.
Aksesibilitas yang Berubah Berkat Tol Trans Sumatera
Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sepanjang 189,2 km merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera dan menjadi tol terpanjang di Indonesia saat diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 15 November 2019. Pembangunannya selesai dalam dua tahun tiga bulan, rekor tersendiri untuk proyek tol sepanjang itu.
Ditambah ruas Tol Kapal Betung yang menghubungkan Kayuagung langsung ke Palembang, perjalanan yang dulu bisa memakan waktu lebih dari dua jam kini bisa ditempuh sekitar 45 menit. Perubahan ini tidak hanya memperlancar arus barang dan orang, tapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi kota.
Tempat Wisata di Kayuagung
Kota Lama di Tepi Sungai Komering
Di sepanjang aliran Sungai Komering, berdiri rumah-rumah berusia ratusan tahun dengan arsitektur bergaya Eropa dan Tionghoa. Kawasan ini dikenal sebagai Kota Lama Kayuagung, kini dicat warna-warni sehingga juga jadi lokasi foto yang menarik. Pemerintah daerah OKI rutin menggelar acara di sini, termasuk lomba bidar (balap perahu tradisional) di Sungai Komering dan lomba maraton yang sudah berjalan sejak 2016.
Rumah Limas Seratus Tiang
Di Desa Sugihwaras, tidak jauh dari pusat kota, berdiri Rumah Limas Seratus Tiang. Bangunan ini menampilkan arsitektur tradisional perpaduan Melayu, Tionghoa, dan Arab dengan ratusan tiang kayu sebagai penyangga. Di dalamnya tersimpan perabot antik seperti meja tamu dan cermin berukir berwarna kuning. Bagi yang tertarik pada warisan arsitektur tradisional Sumatera, tempat ini layak jadi tujuan utama.
Danau Teluko
Danau Teluko, juga dikenal sebagai Danau Teluk Rasau, menawarkan suasana berbeda dari kawasan kota: dikelilingi alam terbuka dan punya restoran apung di atasnya, tempat yang tepat untuk mencicipi masakan khas OKI langsung di tepi air. Danau ini sebaiknya dikunjungi saat musim kemarau karena saat musim hujan, permukaan air naik dan akses ke beberapa bagian bisa tergenang.
Kuliner yang Jadi Alasan Singgah
Pindang adalah identitas kuliner Kayuagung. Yang paling khas adalah Pindang Pegagan, berbeda dari pindang Palembang karena kuahnya lebih pekat, berwarna merah kecokelatan, dengan rasa asam pedas yang lebih tajam. Variannya banyak: pindang udang, pindang ikan, hingga pindang tulang sapi.
Selain pindang, ada Bolu Cupu, kue tradisional yang dibuat dari tiga bahan sederhana (tepung terigu, gula, dan telur) dan dipanggang dengan oven tungku kayu. Ukurannya kecil dengan tekstur agak kering dan taburan gula di atasnya. Menurut inventaris kuliner Dinas Pariwisata Sumatera Selatan, nama “cupu” muncul karena bentuk dan warnanya mirip wadah cupu dalam tepak sirih yang biasa dipakai untuk menyambut tamu.
Satu lagi yang sayang dilewatkan: Sambal Lingkung. Ini bukan sambal cair, melainkan bumbu kering berbahan ikan gabus atau tenggiri yang dimasak bersama rempah seperti jahe dan lada hingga benar-benar kering. Proses memasaknya panjang dan dulu dilakukan secara gotong royong karena harus mengaduk adonan dalam kuali besar sampai kering.
Dari Kota Lama yang menghadap Sungai Komering hingga tol yang mengubah konektivitasnya ke Palembang, Kayuagung adalah kota yang terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. Bagi yang merencanakan perjalanan ke Sumatera Selatan, kota ini layak masuk daftar, bukan hanya sebagai tempat singgah.